Beberapa Kelemahan Teori Moneter Milton Friedman

Milton Friedman merupakan seorang ahli yang terkenal sebagai perintis golongan monetarisme, dengan teori moneternya yang beraliran kuantitas modern.

Milton Friedman mengatakan bahwa teori kuantitas adalah teori tentang permintaan uang, bukan teori tentang penentuan produk, pendapatan, maupun harga.

Ia berpendapat, uang merupakan salah satu bentuk kekayaan, seperti halnya bentuk-bentuk kekayaan yang lain, seperti surat berharga, tanah, atau kepandaian.

Menurutnya, uang juga merupakan barang yang produktif, karena bila uang dikombinasikan dengan faktor produksi lainnya, dapat menghasilkan barang lain. Jadi, teori permintaan uang dapat pula dipandang sebagai teori modal (capital theory).

Baca juga: Perbedaan Pendapat Alfred Marshall Dengan Irving Fisher Mengenai Permintaan Uang

Dari segi teori modal, teori permintaan uang bisa dilihat dari dua sudut, yaitu sudut pemilik perseorangan dan sudut pemilik perusahaan.

Banyak pertentangan dalam teori Friedman dengan teori Keynes, sehingga ahli-ahli ekonomi dunia banyak yang memberi kritikan terhadap teori Friedman.

Perbedaan utama antara pendekatan Friedman dengan aliran Keynes terletak pada penjelasan mengenai mekanisme transmisi yang menghubungkan perubahan jumlah uang dengan pengeluaran total.


Kritik Terhadap Teori Friedman Dalam Menafsirkan Teori Keynes

Terdapat tiga kesalahan Friedman dalam menafsirkan teori Keynes, dan kritik tersebut disampaikan oleh Paul Davidson, antara lain:


1. Pengertian Tentang Konsep Ketidakpastian, Kontrak, dan Fleksibilitas Tingkat Upah

Secara eksplisit, Friedman mengklaim bahwa persamaan-persamaan keseimbangan umum dari Walras menjadi dasar dari teori moneternya.

Selain itu, Ia juga menyatakan bahwa semua antisipasi akan menjadi fakta pada rentan waktu jangka panjang.

Kebalikannya dengan Keynes yang menyatakan bahwa uang penting karena sebagai media penghubung masa sekarang dan masa mendatang.

Keinginan orang untuk menyimpan uang sebagai bentuk kekayaan menunjukkan bahwa mereka tidak percaya seratus persen terhadap prediksi dan perhitungan masa mendatang. Artinya terdapat ketidakpastian yang selalu mungkin terjadi dan tidak bisa dihindari.

Menurut Keynes, jika keadaan dunia kerap dipenuhi kepastian, dan semua harapan serta antisipasi masyarakat selalu terwujud, tidak ada alasan orang untuk menyimpan uang karena tidaklah rasional.

Kaum klasik mengasumsikan uang merupakan salah satu jenis aset yang memberikan jasa berupa likuiditas yang lebih kecil dibandingkan dengan biaya memegangnya, jadi return memegang uang adalah negatif, yang tidak mungkin terjadi.


2. Permintaan dan Penawaran Uang

Friedman memandang variabel pengeluaran yang direncanakan (planned expenditure) sebagai suatu variabel bebas tersendiri. Sedangkan, menurut Keynes motif pembelanjaan (pengeluaran untuk transaksi) dalam permintaan uang seseorang merupakan hal yang penting.

Dari sudut teori Keynes, terdapat “kekurangan” dalam model permintaan uang dari Friedman, karena:

a. Berakar dari pendapat Irving Fisher yang membedakan tingkat bunga riil dengan tingkat bunga nominal. Keynes menolaknya dengan alasan dapat mengaburkan efek inflasi yang diharapkan terhadap Marginal Efficiency of Capital dengan efeknya terhadap uang.

b. Teori Keynes berpendapat bahwa keadaan dunia selalu dipenuhi ketidakpastian, berlawanan dengan asumsi Friedman yang menyatakan bahwa nilai yang diantisipasi (nilai permanen) tidak berubah, artinya nilai dari variabel pertumbuhan dan tingkat bunga riil ditentukan secara eksogen dan antisipasi itu sangat dipercaya dan dipegang kuat.

c. Friedman berasumsi bahwa penawaran uang ditentukan secara eksogen dan elstisitas pendapatan terhadap permintaan uang adalah satu. Asumsi ini tidak sesuai dengan motif pembelanjaan dalam analisa Keynes terhadap permintaan uang.


Sedangkan dalam hal penawaran uang, Friedman menyatakan bahwa penawaran uang ditentukan secara eksogen. Berbeda dengan pendapat Keynes yang menyatakan bahwa uang tidak masuk begitu saja dalam perekonomian, namun melalui dua proses yang berbeda, yaitu proses pembelanjaan yang bersumber dari pendapatan, dan proses perubahan portofolio.

Kondisi tersebut hanya dapat terpenuhi apabila terdapat dua syarat, yaitu:

- Ada tingkat upah yang kaku atau dengan kata lain jasa likuiditas uang lebih besar dari biaya memegangnya dan obligasi kontrak dalam surat berharga merupakan penyimpanan nilai yang aman.

- Ada ketidakpastian serta ada biaya transaksi dan pemeliharaan yang tinggi dalam pembelian barang-barang fisik ketimbang biaya dalam transaksi “hak” barang fisik.


Selain itu, Friedman juga menganut asumsi bahwa uang dan surat berharga di satu pihak, serta barang produksi tahan lama di pihak lain, mempunyai elastisitas yang sangat tinggi sehingga ada perbedaan dengan kondisi Keynes.


3. Konsep Mengenai Likuiditas Aset dan Sistem Penyelenggaraan Pasar

Dalam kerangka analisisnya, Friedman menyatakan bahwa perbedaan antara aliran Keynes dan aliran kuantitas dalam mekanisme transmisi bersumber pada perbedaan asumsi mengenai harga.

Keynes tidak menyetujui hal ini karena menganggap perbedaan tersebut terletak pada issue mengenai likuiditas barang konsumen tahan lama sebagai penyimpan nilai.

Mekanisme transmisi dari Friedman hanya bisa terjadi bila semua aset, termasuk barang konsumsi tahan lama memiliki cukup liquid yang berarti mereka mudah dijual kembali di pasar pada masa yang akan datang. Keynes menilai bahwa kondisi tersebut tidak sesuai dengan konsep likuiditas dalam dunia nyata.

Barang tahan lama memiliki tingkat likuiditas yang selalu lebih kecil dibandingkan dengan uang dan aset finansial lainnya. Artinya, sebagai sarana penyimpan nilai, barang konsumsi tahan lama selalu lebih buruk dibandingkan dengan uang dan surat berharga.

Kecuali, pada situasi di mana sistem penyelenggaraan pasar telah cukup terorganisir, barang modal dan tahan lama tersebut menjadi cukup menarik karena dapat dijual seketika untuk memperoleh uang.

Dengan demikian, Keynes menganggap bahwa perbedaan dalam mekanisme transmisi pada kedua aliran bersumber pada perbedaan asumsi tentang tingkat keorganisasian pasar barang tahan lama yang mempengaruhi tingkat likuiditas barang-barang tahan lama tersebut.


Kritik Atas Pandangan Friedman Perihal Teori Kuantitas

Dinyatakan oleh Friedman bahwa teori kuantitas awalnya berkembang dari versi transaksi, versi income, dan versi Cambridge.

Disebutkan pula oleh Friedman bahwa teori Keynes tentang preferensi likuiditas hanya sebagai penegasan atas pergeseran teori kuantitas dari versi transaksi menjadi versi keseimbangan tunai.

Dalam hal ini, dijelaskan oleh Friedman bahwa perbedaan mendasar antara teori kuantitas dengan teori Keynes terletak pada asumsi elastisitas permintaan uang terhadap tingkat bunga.

Teori Keynes dinyatakan memiliki elastisitas permintaan uang terhadap tingkat bunga yang tinggi, sedangkan pada teori kuantitas, elastisitas tersebut dianggap tidak ada (nol).

Kerangka kerja yang digunakan Friedman dalam analisanya terhadap permintaan uang sama seperti pada Keynes yaitu dengan mempertimbangkan peranan tingkat bunga.

Menurut Patinkin, meski Friedman menyatakan bahwa secara empiris fungsi permintaan uang tidak memiliki elastisitas yang tinggi terhadap tingkat bunga, namun kerangka analisis Friedman sebenarnya cenderung mengikuti aliran Keynes dan bukan kuantitas.


1. Teori Friedman Dalam Kerangka Teori Kuantitas

Terdapat kesalahan dalam tafsiran Friedman mengenai teori kuantitas dengan membedakan persamaan Fisher, MV=PT dengan versi income, MV=P.y dimana y adalah tingkat pendapatan riil dan V merupakan velositas uang beredar.

Friedman menganggap bahwa kedua versi tersebut mempunyai konsep mengenai peranan uang beredar yang berbeda.

Versi Fisher menyebutkan pentingnya uang sebagai sesuatu yang dipegang. Padahal menurut Patinkin, pendekatan versi income hanya sebagai variasi dari bentuk versi transaksi, tanpa perbedaan penekanan dalam peranan uang.

Alasan penggunaan versi income semata-mata karena masalah data, dan pertimbangan bahwa variabel tingkat pendapatan riil (output riil lebih berarti secara ekonomis dibandingkan variabel transaksi.

Anggapan Friedman juga salah karena mengatakan bahwa dalam jangka pendek, tingkat pendapatan riil konstan dan hanya tingkat harga yang berubah. Tingkat harga yang berubah secara proporsional terhadap jumlah uang beredar hanya berlaku dalam jangka panjang.

Dalam jangka pendek, perubahan velositas dan tingkat output riil bisa terjadi seperti tingkat harga sebagai akibat perubahan jumlah uang beredar.

Hal ini bisa kita lihat pada model yang dibentuk oleh Friedman dalam teori kuantitas yang mengasumsikan bahwa y=yo. Di mana y merupakan variabel pendapatan riil dan ditetapkan secara eksogen.

Menurut Patinkin, sebelum menyatakan bahwa pendapatan riil (y) ditentukan secara eksogen, persamaan-persamaan Walras dari keseimbangan umum pada awal model perlu ditambahkan.

Hal ini berguna untuk menentukan pendapatan riil secara endogen. Jadi, fungsi produksi dan persamaan ekses permintaan dalam pasar tenaga kerja perlu ditambahkan. Dengan asumsi tingkat harga dan upah berlangsung fleksibel, tercapainya ekuilibrium pasar tenaga kerja, dan stok modal dianggap konstan. Maka, penentuan tingkat ekuilibrium dari output riil (y) dalam fungsi produksi dapat dilakukan.

Dalam jangka panjang, proporsionalitas hubungan tingkat harga dan uang beredar dapat dibenarkan, meskipun tidak dalam kondisi dikotomi seperti yang dinyatakan oleh teori klasik dan Friedman.


2. Teori Friedman Dalam Ekonomi Keynes

Berdasarkan model yang dinyatakan oleh Friedman, dalam jangka pendek Keynes mengasumsikan bahwa tingkat harga stabil/tetap, atau p=po dan tingkat output riil dapat berubah-ubah.

Teori Keynes tentang pengangguran didasarkan pada asumsinya mengenai tingkat absolute dan kekakuan tingkat harga.

Teori tersebut disebutkan oleh Friedman tidak dapat berlaku secara umum, terutama pada kasus di mana tingkat upah dan tingkat harga yang fleksibel.

Kesimpulan tersebut merupakan hal yang salah, karena Friedman mengabaikan pernyataan Keynes dalam analisisnya tentang implikasi fleksibilitas harga dan tingkat upah.

Diabaikan pula oleh Friedman dalam interpretasi teori Keynes yang disampaikan oleh Mondigliani yang menyatakan bahwa tingkat upah yang turun dan tingkat harga yang fleksibel akan menekan tingkat bunga dan mendorong ke dalam situasi perangkap likuiditas. Interpretasi ini bahkan telah dianut oleh banyak buku ekonomi.

Lebih lanjut dikatakan oleh Keynes bahwa penurunan tingkat harga yang disebabkan oleh tekanan pengangguran diharapkan akan bisa meningkatkan kesempatan kerja. Namun Keynes juga menyatakan bahwa dengan saranan kebijaksanaan, dan tingkat upah yang fleksibel saja tidak cukup menjamin tercapainya full employment.

Jadi, tidak seperti yang dikatakan oleh Friedman bahwa konsep tentang kekakuan tingkat upah merupakan asumsi dari analisa Keynes. Namun, hal tersebut hanya simpulan kebijaksanaan yang diusulkan oleh Keynes.


***

Dari uraian di atas, dapat ditarik beberapa kesimpulan tentang kelemahan teori yang dinyatakan oleh Milton Friedman, antara lain:

1. Friedman menyatakan bahwa dasar dari teori moneternya ialah persamaan-persamaan keseimbangan umum dari Walras dan juga menyatakan bahwa semua antisipasi akan menjadi kenyataan dalam jangka panjang. Padahal menurut Keynes, uang merupakan media yang akan menjembatani masa sekarang dan masa mendatang serta selalu ada ketidakpastian yang akan terjadi dan tidak dapat dihindari.

2. Variabel pengeluaran yang direncanakan dihilangkan oleh Friedman dan dijadikan sebagai suatu variabel bebas tersendiri.

3. Perbedaan antara aliran Keynes dan aliran kuantitas dalam mekanisme transisi dinyatakan Friedman bersumber dari perbedaan asumsi mengenai harga.

4. Friedman salah menafsirkan teori kuantitas dengan membedakan persamaan Irving Fisher MV=PT dengan versi income MV=P.y di mana y adalah tingkat pendapatan riil dan V merupakan velositas uang beredar.

Sumber:
http://cicitkomariyah.blogspot.co.id/2012/03/kelemahan-teori-moneter-milton-friedman.html

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Beberapa Kelemahan Teori Moneter Milton Friedman"

Posting Komentar